Tontonan Sekaligus Tuntunan

TONTONAN SEKALIGUS TUNTUNAN
Oleh: Miftahudin

Fenomena gadget dan kecanggihan tekhnologi tidak bisa dipungkiri telah melanda seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tidak terkecuali kalangan mahasiswa. Gadged atau smartphone telah menjadi gaya hidup dan hiburan mahasiswa.
Ditengah kepopuleran smartphone dikalangan mahasiswa, teater gema Universitas PGRI Semarang perlahan namun pasti mulai menunjukkan eksistensinya untuk menyaingi kepopuleran android dikalangan mahasiswa UPGRIS pada umumnya untuk menjadi sumber hiburan yang menjadi tontonan sekaligus memberikan tuntunan bagi mahasiswa.
 Pada hari selasa, 4 Oktober 2016 pukul 19.00 WIB kemarin, theater gema Universitas PGRI Semarang menunjukkan keberadaanya dengan menampilkan suatu hiburan berupa seni bermain peran dengan judul  “Pentas Jaka Tarub dan Pentas Monolog Balada Sumarah” di Gedung Pusat lantai 7 dengan harga tiket sepuluh ribu rupiah saja. Mungkin terdengar murah, namun bukan murahan.
Pentas seni yang diperankan oleh anak-anak gema ini mampu mengangkat animo mahasiswa UPGRIS untuk menonton pertunjukan tersebut. Penonton juga tidak hanya dari mahasiswa UPGRIS ataupun kalangan mahasiswa saja, tapi juga dihadiri oleh kalangan masyarakat dan pecinta seni dari daerah di sekitar Semarang.
Saat memasuki ruangan, penonton akan disuguhi dengan suasana hening dan gelap yang menenangkan seoalah-olah penonton telah berada pada ruang dunianya sendiri. Pementasan dimulai dengan alunan musik lirih nan merdu yang sangat enak didengar telinga. Pemeran Jaka Tarub mulai menampakkan batang hidungnya dan suara mulai keluar dari mulutnya, disaat itulah mata para penonton mulai tertuju pada satu orang yakni Si Jaka Tarub. Permainan lighting yang memukau dipadukan dengan tingkah pemain yang apik  menjadi perpaduan yang sedap untuk dipandang mata.
 Para penonton pun semakin memfokuskan pandangannya dan mulai melupakan android ditangan dan memasukkannya kedalam tas masing-masing. Ditambah para pemain-pemainnya yang tampan rupawan dan cantik menarik semakin membuat mata terpana. Penonton juga diajak untuk bermain pandangan dengan tata lampu yang kadang-kadang redup membuat para penonton seoalah-olah ingin membuka mata batinnya.
 Semakin kesini alur cerita mulai terlihat, Para Bidadari yang cantik mulai turun dari khayangan untuk mandi di sungai. Jaka Tarub yang melihat hal itu berupaya mengambil selendang salah satu bidadari yakni selendang Putri Nawang Wulan. Setelah itu, Putri Nawang Wulan merasa kebingungan, ia pun berjanji barang siapa yang memberinya pakaian jika itu perempuan akan ia jadikan saudara, jika itu laki-laki akan dijadikan suami. Mendengar hal itu, Jaka Tarub pun memanfaatkan keadaan dengan memberi Putri Nawang Wulan pakaian, karena telah berjanji akhirnya menjadikan Jaka Tarub suami.

Ditengah suasana yang mengharukan yang mampu membuat penonton terbawa suasana, pertunjukkan tiba-tiba saja dihentikan. Hal itu seketika membuat penonton kebingungan. Tiba-tiba saja tiga orang berbadan gempal mucul dan menampilkan sebuah drama komedi.
 Seketika saja suasana di Gedung Pusat lantai 7 menjadi ramai riuh dengan tawaan yang gemuruh. Bahan lawakan yang segar dan interaktif membuat para penonton terhibur. Ternyata ini merupakan selingan agar penonton tidak terlalu terbawa dalam suasana Jaka Tarub dan Putri Nawang Wulan tadi. Setelah penonton riuh dengan lawakan, pementasan Jaka Tarub kembali dilanjutkan. Setelah menikah, Jaka Tarub dan Putri Nawang Wulan dikaruniai seorang putri yang cantik.
 Pada suatu ketika Putri Nawang Wulan sedang menanak nasi dan meminta Jaka Tarub untuk menjaganya karena Putri Nawang Wulan akan pergi sebentar. Putri Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub agar tidak membuka tutup pancinya selama ia menanak nasi. Jaka Tarub yang penasaran akhirnya melanggar perintah itu dan membuka tutup pancinya. Seketika Jaka Tarub kaget karena hanya melihat satu batang padi didalamnya.
 Mendengar hal itu, Putri Nawang Wulan pun marah kepada Jaka Tarub. Saat marah, secara tidak sengaja Putri NawangWulan menemukan selendang miliknya yang telah dicuri Jaka Tarub di tempat penyimpanan beras. Putri Nawang Wulan pun semakin tak mampu mengendalikan amarahnya, dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke khayangan meninggalkan Jaka Tarub dan Putrinya.
 Pada ending cerita tersebut banyak penonton yang ikut terbawa suasana sedih. Penonton pun menjadi termenung dan suasana hening sejenak kemudian riuh dengan suara tepuk tangan. Dari cerita tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwa apapun itu jika dilandasi dengan kebohongan pasti akan terbongkar dan  merugikan diri sendiri. Seni bermain peran tersebut dapat disimpulkan tidak hanya sebagai tontonan semata, namun juga dapat dijadikan sebagai tuntunan.

Animo penonton yang begitu meriah dapat kita simpulkan bahwa sebernarnya generasi muda masa kini juga menyukai kesenian-kesenian tradisional salah satunya seni bermain peran. Walaupun kecanggihan tekhnologi mampu membuat generasi muda menjadi lupa segalanya, tapi jika sudah berbicara soal seni, mereka pun juga akan antusias untuk  mengikutinya. Karena seni tidak akan terganti dan sudah melekat pada nadi setiap manusia.
 Hanya saja yang menjadi persoalan adalah kurangnya minat kaum muda untuk menjadi pemain atau berperan dalam suatu pementasan. Selain itu, kendala lain yaitu kurangnya waktu pementasan drama di tempat-tempat umum karena kita tidak bisa menikmati seni bermain peran ini setiap hari melainkan hari-hari tertentu saja dan minimnya job untuk para seniman. Minimnya job berpentas membuat para seniman harus alih profesi untuk menghidupi keluarganya hingga re-generasi menjadi tidak ada.
 Untuk itu yang harus kita lakukan adalah dengan sedini mungkin mengenalkan kesenian-kesenian tradisional kepada anak cucu kita atau adik-adik kita agar re-regenerasi dapat berjalan baik  dan seni dapat lestari.

(Miftahudin, Pujangga Asli Kendal).

Komentar