Kopi, Komposisi Pilihan dan Ketulusan Hati
Oleh Miftahudin

Judul Buku :
Filosofi Kopi (Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade)
Pengarang :
Dewi “Dee” Lestari
Penerbit :
Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2006
Jumlah Halaman : XIV + 142 Halaman
Harga Buku :
Rp. 75.000,-
Kopi, mungkin bagi sebagian orang merupakan minuman yang
mampu memberikan kenikmatan. Dengan meminum secangkir kopi seseorang mampu
menemukan passion yang ada dalam
dirinya. Kopi mampu memberikan inspirasi dan motivasi tersendiri bagi penikmat
kopi.
Selain dinikmati rasanya, kopi dapat
juga dinikmati aromanya. Setiap kopi mampu memberikan aroma tersediri
bergantung jenis kopinya. Bahkan, cara pengolahan dan penyeduhan kopi pun
berpengaruh terhadap aroma kopi. Aroma kopi yang original tentu melewati
berbagai proses panjang seperti halnya proses kehidupan.
Dilansir dari m.wikipedia.org
menyebutkan bahwa kopi adalah minuman seduhan hasil biji kopi yang telah
disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk. Kopi merupakan salah satu komoditas
yang dibudidayakan lebih dari 50 negara. Dua varietas pohon kopi yang dikenal
secara umum yaitu kopi robusta dan kopi Arabika.
Sebelum diminum kopi memlaui proses
yang panjang. Mulai dari pemanenan biji kopi yang telah matang, pengeringan
biji kopi, penyangraian, dan penggilingan. Rangkaian proses yang begitu panjang
tentunya sebanding dengan kenikmatan dan kepuasan yang didapat dengan rasa khas
dan aroma yang ada dalam kopi.
Bagi sebagian orang yang tidak bisa
menikmati kopi seperti Jody, mungkin kopi hanyalah minuman biasa yang tidak
terdapat cita rasa maupun aroma yang khas. Kopi hanyalah minuman biasa seperti
apa yang dikatan jody. Berbeda dengan Ben yang pecandu kopi. Ben begitu
menggilai kopi dan terobsesi dengan kopi layaknya obsesi dalam kehidupannya.
Barista atau peramu kopi,
yang dalam buku ini digambarkan tokoh Ben adalah seorang peramu kopi yang
handal. Hari-hari dilalui Ben dengan menari-nari meracik kopi dengan
memerhatikan takaran-takaran yang pas. Gelas-gelas ukur menjadi alat mainannya.
Selain menghabiskan waktu dengan meracik kopi, Ben sesekali berkeliling dunia
untuk menikmati kopi dari berbagai penjuru dunia untuk memenuhi obsesi dan
ambisinya terhadap kopi. Ben begitu menggilai kopi.
Jody, partner Ben yang bersama-sama
mendirikan kedai kopi bernama “filosofi kopi”. Berbeda dengan Ben, Jody lebih
acuh dan cuek dengan kopi. Jody tidak terlalu memaknai kopi secara berlebihan.
Baginya kopi hanyalah sekadar minuman.
“Filosopi Kopi” merupakan deskripsi
singkat diri Ben. “Filosofi Kopi” merupakan tempat bermain baginya. Setiap
harinya kedai ini sangat ramai dan penuh dengan pengunjung. Bukan hanya
penggemar kopi saja yang berkunjung, namun mereka yang tidak suka kopi
sekalipun turut meramaikan kedai. Pengunjung yang telah menikmati kopi akan diberi
kartu berisi penjelasan dan filosofinya sesuai kopi yang ia pesan. Ben juga
ramah dan sabra dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan pengunjung soal kopi.
Suatu sore, seorang pria kaya raya
berkunjung ke kedai. Pria itu menanyakan sesuatu kepada Ben. Dia menantang Ben
untuk meracik kopi yang paling enak. Ben tertantang, dan meracik secangkir kopi
dengan penuh memperhatikan takarannya.
Setelah secangkir kopi tersedia,
pria itu meminumnya dan berkata “kopinya enak, tapi bukan paling nikmat. Aku
pernah menikmati kopi yang lebih dari ini.”. mendengar ucapan itu, Ben langsung
memalingkan perhatiannya seolah tidak percaya ada yang lebih nikmat dari kopi
racikannya. Ben tertantang untuk mencari tau kopi tersebut.
Ben dan Jody menelusuri pegunungan
untuk mencari kopi tiwus seperti apa yang dikatakan pria itu. Perjalanan
ditempuh begitu jauh, hingga Ben berjumpa dengan seorang petani kopi di sebuah
warung dan menghidangkannya kopi panas. Ben dan Jody pun terkejut setelah
merasakan kopi hidangan dari bapak-bapak petani kopi tersebut. Ben tidak mampu
berkata apa-apa dengan kesempurnaan kopi tiwus. Ben merasa gagal dan putus asa
selama menjadi Barista bahwa
pandangannya selama ini keliru. Ben dan Jody kembali ke Jakarta sembari membawa
biji kopi tiwus sekarung.
Setelah sampai di Jakarta, Jody
menghidangkan kopi tiwus bersamaan dengan kartu kecil yang berisikan filosofi
makna yang membuat Ben tersadar bahwa jalan hidup yang ia jalani merupakan hal
yang salah karena tidak ada kehidupan yang sempurna. Setelah itu, Ben
melanjutkan perjuangan dan hobinya sebagai Barista
di Kedai Filosofi Kopi.
Membaca buka karya Dee Lestari ini
cukup membuat pembaca penasaran.
Pernyataan tersebut terbukti dari adanya beberapa cetakan buku ini. Selain itu,
pembaca akan terbantu dengan ensiklopedi mini yang terletak di bawah halaman
setiap lembarnya. Kata-kata yang sukar dipahami pembaca akan terjawab dalam
ensiklopedi mini tersebut.
Pesan moral dalam buku ini juga
cukup mengena di hati pembaca. Salah satunya kita tidak boleh putus asa dalam
menjalani kehidupan. Berusaha sekersa tenaga seperti Ben untuk mendapatkan
hasil yang maksimal. Bahasa yang dipakai oleh Dee Lestari pun cukup menarik
untuk dikaji dan ditelaah.
Buku ini berisi kata-kata yang untuk
sebagian orang (awam) sukar untuk dimengerti. Jadi pembaca buku disarankan
untuk lebih memperkaya kosa kata dan pembendaharaan kata sebelum membaca buku
ini. Buku ini juga terlalu segmented, karena gagasan penulis tidak dimengerti
semua kalangan. Selain itu, sampul buku
juga kurang menarik untuk kalangan remaja. Mekipun begitu, buku ini tetap recommended untuk dibaca.
(Miftahudin, Pujangga
Kendal)
Komentar
Posting Komentar