SUMPAH
PEMUDA, BUKAN SUMPAH MIAPAH
Oleh:
Miftahudin
Masa
muda
adalah masanya para remaja. Pada masa ini semestinya adalah masa dimana
semangat pemuda-pemudi sedang
berapi-api. Dalam era modern saat ini banyak pemuda yang mengartikan kata-kata
tersebut terlalu tekstual, yakni pemuda yang kekinian, yang mempunyai pemikiran
kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga.
Bulan
Oktober identik dengan bulannya kaum muda. Mengapa demikian? Hal ini
dikarenakan pada Bulan Oktober ada peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa
Indonesia, yakni peristiwa dimana perwakilan pemuda dari seluruh negeri ini
bersatu untuk mendeklarasikan sebuah pernyataan yang disebut “Sumpah Pemuda”.
Sumpah tersebut
dideklarasikan oleh pemuda-pemuda dengan tujuan untuk mempersatukan negara dan
kaum muda pada umumnya. Hal itu dilatarbelakangi Karena pada masa itu keadaan
negara sedang tidak karuan dan terpecah belah hingga muncul ide cemerlang untuk
mempersatukan bangsa melalui pemuda.
Adapun pemuda-pemuda
yang ikut mendeklarasikan sumpah tersebut, yakni: Jong Java, Jong Soematranen
Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond,
Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Pemoeda Kaoem Betawi. Mereka bersatu untuk bertanah
air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu yakni Indonesia.
Saya ingat betul dengan
apa yang dikatakan Bung Karno di pidato kebangsaannya pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda silam, yaitu “Beri aku
1000 orang tua niscaya aku akan cabut Gunung Merapi dan beri aku 10 pemuda
niscaya akan aku genggam dunia”. Dari pernyataan Bung Karno tersebut kita jadi
bisa berfikir betapa kuat dan hebatnya kemampuan pemuda serta betapa pentingnya peran pemuda untuk negara.
Miris jika kita melihat
perilaku pemuda masa kini. Betapa tidak, pemuda masa kini mengalami degradasi
mental dan degradasi moral. Nasionalisme mereka seakan-akan hilang dan
bertindak kebarat-baratan. Adat ketimuran yang menjadi ciri khas orang
Indonesia kini semakin luntur.
Ditengah lunturnya rasa nasionalisme dan semakin
hilangnya rasa kepedulian pemuda terhadap sejarah bangsa, Universitas PGRI
Semarang melalui Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
(BEM FPBS) menggelar acara bertajuk “Festival Budaya” yang diadakan di Gedung
Balairung Universitas PGRI Semarang dan pertunjukan dari UKM Gema yang bertajuk
“Soempah Pemoeda” yang diadakan di Lapangan Gedung Utama
Universitas PGRI
Semarang.
Acara yang digelar untuk memeriahkan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda
tersebut, cukup untuk menarik minat Mahasiswa untuk menontonnya, terutama
Mahasiswa semester 3 PBSI. Pasalnya, selepas kegiatan itu pasti ada tugas dari Pak Setia Naka Andrian untuk menulis
esai. Hal ini lantas membuat Mahasiswa semangat menontonnya.
Festival budaya yang
diadakan di Balairung tersebut berlangsung sangat meriah. Hal ini tidak
terlepas dari aktifnya peran Mahasiswa dalam mengikuti acara tersebut.
Mahasiswa dituntut untuk menampilkan kebudayaan-kebudayaan nusantara.
Kebudayaan yang ditampilkan oleh Mahasiswa FPBS UPGRIS pun juga beragam, mulai
dari tari-tarian tradisional Jawa, Batak, Papua, hingga pertunjukan Seni
Barongan dan Reog Ponorogo pun ada.
Hal ini jelas membuat mahasiswa
jadi mengetahui seni-seni tradisional Indonesia. Selain itu, secara tidak
langsung menumbuhkan rasa nasionalisme mereka. Ini merupakan langkah yang baik
barangkali acara serupa dapat diulangi lagi tahun depan.
Acara pementasan yang
bertajuk “Soempah Pemoeda” yang digelar di Lapangan GU juga sangat meriah lantaran banyak mahasiswa yang
terlibat di dalamnya. Hal ini jelas membuat penonton terhibur. Selain itu,
manfaat lainnya adalah mahasiswa bisa mengetahui sejarah besar bangsa pada 28
Oktober 1928 silam.
Berkat pementasan
tersebut pula sedikit banyak mampu memompa semangat nasionalisme mahasiswa.
Diakhir acara juga dibacakan ikrar sumpah pemuda hingga penonton bisa mengetahi
secara pasti bunyi ikrar sumpah pemuda. Adapun bunyi ikrar Sumpah Pemuda yaitu
“ kami putra-putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air
Indonesia. Kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa
Indonesia. Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan,
Bahasa Indonesia.
Rangkaian acara yang
dilakukan di Universitas PGRI Semarang ini merupakan hal yang positif. Membuat
para kaum muda mengetahui sejarah besar bangsanya. Bangsa yang besar adalah
bangsa yang pemuda-pemudinya mengetahui sejarah bangsanya. Hal ini merupakan
langkah baik.
Saya ingat betul
mengenai apa yang disampaikan Bung Karno pada Pidato Kebangsaannya ketika
terakhir menjabat sebagai Presiden RI. Beliau mengatakan “Jangan sekali-kali
meninggalkan sejarah”. Tak lama kemudian jargon itu menjadi booming dan viral. Kemudian pidato tersebut dikenal sebagai ” Pidato Jasmerah”.
Jadi, jika Bangsa Indonesia mau menjadi bangsa yang besar maka pemudanya harus
mengetahui sejarah bangsanya.
Untuk mewujudkan hal
tersebut perlu wadah dan sarana bagi pemuda untuk mengetahuinya. Dengan acara-acara
semacam Bulan Bahasa dan Peringatan Hari Sumpah Pemuda ini mampu untuk
meningkatkan rasa nasionalisme pemuda-pemuda. Karena pemuda adalah penerus
bangsa, harapan bangsa.
(Miftahudin,
Pujangga Asli Kendal)
Mantaplah GG
BalasHapusMantaplah GG
BalasHapusInsyaallah
BalasHapus