Autobiografi Miftah
Nama
saya Miftahudin, biasa dipanggil Miftah, Tahu, maupun Udin. Nama “Miftah”
merupakan nama tenar atau pun nama populer saya, lazimnya saya dipanggil dengan
nama tersebut. “Tahu” merupakan panggilan waktu SMP dan “Udin” merupakan nama
yang khusus dipakai oleh orang-orang tua. Jadi buat kalian kaula muda, panggil
saya “Miftah”.
Saya
lahir di Kendal, pada 6 Januari 1997. Saya dibesarkan di lingkungan yang penuh
kedamaian. Lingkungan yang alamnya masih asri, penuh dengan keanekaragaman
hayati. Saya tinggal di Desa Sumur, Kecamatan Brangsong. Desa Sumur merupakan
desa kecil dan terpencil di Kecamatan Brangsong dengan cerita mistis yang masih
melekat di dalamnya. Sebuah desa kecil di tengah hutan dengan mayoritas mata
pencaharian warganya sebagai petani. Dibesarkan di lingkungan seperti itu tentu
membuat saya menjadi pemuda yang berani dan kokoh tidak tertandingi.
Selain
itu, saya juga dibesarkan di lingkungan keluarga yang agamis dan masih
menjunjung tinggi adat Jawa. Kebiasaan-kebiasaan dan pantangan adat Jawa masih
begitu melekat. Hal itu tentu membuat saya tidak seperti pemuda lainnya.
Pendidikan
formal saya dimulai dari bangku SD (Sekolah Dasar) tepatnya di SDN 2 Sumur.
Maklum saja, di desa saya belum ada Taman Kanak-kanak (TK) kala itu. Di bangku
Sekolah Dasar (SD) saya tergolong siswa yang aktif dan cukup berprestasi. Saya
kerap dipilih atau didelegasikan untuk mengikuti lomba mewakili sekolahan.
Lomba yang saya ikuti diantaranya Pesta Siaga (Juara 2), Lomba Cerdas Cermat (Juara
Harapan 3), Lomba Pendidikan Agama Islam (Juara 3), dan Lomba Siswa Teladan
(Juara 3). Saya lulus dari SDN 2 Sumur pada tahun 2008.
Setelah
tamat SD, saya melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya di SMPN 2
Brangsong. Sekolahan ini terletak di Desa Kertomulyo Kecamatan Brangsong.
Jaraknya dari rumah saya sekitar 5 kilometer. Setiap hari saya mengayuh sepeda
dari rumah ke sekolahan dengan jarak tempuh demikian, dengan keadaan jalan
bebatuan berkelok khas perbukitan. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana rasanya,
jam berapa saya berangkat sekolah agar tidak terlambat.
Semasa
SMP saya menjadi siswa yang pendiam dan tidak begitu aktif. Hal tersebut tidak
terlepas dari jauhnya jarak yang harus saya tempuh hingga membuat saya lemas
begitu sampai di sekolahan. Meskipun begitu, saya sempat menorehkan setitik
prestasi dengan mewakili SMP untuk Lomba OSN Matematika walaupun belum
berhasil. Saya lulus dari SMPN 2 Brangsong tahun 2011.
Lulus
SMP, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMAN 1 Kaliwungu. Bebeda
dengan SMP, di bangku SMA ini saya menjadi siswa yang aktif dan seperti
menemukan passion saya. Banyak
kegiatan maupun organisasi yang saya ikuti, diantaraya Pramuka, OSIS, Rebana,
dan Futsal. Pramuka merupakan kegiatan yang paling saya tekuni karena saya
ditunjuk sebagai Ketua Pramuka (Pradana Putera). Di Pramuka saya seperti
menemukan jati diri saya.
Kesibukan
dalam beroganisasi tentu memiliki banyak konsekuensi, diantaranya jarang masuk
kelas dan sering pulang terlambat bahkan hingga malam. Terkadang orang tua saya
sampai kebingungan mencari saya karena saya sering terlambat pulang. Jarak
sekolahan dari rumah saya sekitar 7 kilometer. Saat kelas X dan XI saya
mengayuh sepeda untuk ke sekolahan. Tahu sendiri lah bagimana rasanya. Banyak
cerita semasa SMA. Tahun 2014 saya lulus dari SMAN 1 Kaliwungu.
Setelah
lulus dari SMAN 1 Kaliwungu, saya berupaya melanjutkan untuk kuliah. Sama
seperti siswa lainnya, saya berusaha untuk bisa diterima di Perguruan Tinggi
Negeri (PTN) yang saya inginkan. Saya melewatkan satu tahap pertama, yakni saat
SNM-PTN dikarenakan saya terlambat untuk mendaftar. Kala itu saya terlalu sibuk
di pramuka hingga melewatkan hal tersebut. Tentu saya kecewa, tapi saya
berfikir pasti ada jalan lain untuk saya bisa meraihnya.
Gagal
di tahap pertama tentunya menjadi pembelajaran bagi saya. Seleksi tahap kedua
(SBM-PTN) tentu tidak saya lewatkan. Saya mendaftar di Universitas Negeri
Semarang (UNNES) jurusan Pendidikan Sejarah dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
(PGSD). Masuk PTN ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Saya tidak
diterima di PTN tersebut. Segala upaya telah saya lakukan dengan maksimal, tapi
Tuhan berkata lain.
Tidak
diterima di PTN yang saya inginkan tentu membuat saya kecewa dan frustrasi.
Puncaknya saya harus jatuh sakit dan harus dirawat. Setelah itu saya memutuskan
untuk tidak kuliah terlebih dahulu dan mencoba lagi tahun depan. Saya
memutuskan untuk bekerja.
Pekerjaan
pertama yaitu saya jaga toko pakaian. Merasa tidak cocok, saya memutuskan untuk
keluar dari pekerjaan tersebut. Selanjunya saya bekerja di Balai Desa Sumur
sebagai Staff Perangkat Desa. Tugas saya mendata dan menginput data
kependudukan. Satu tahun bekerja, saya memutuskan untuk kembali mencoba
mendaftar di PTN yang saya inginkan.
Kegagalan
di masa lalu tentu masih menjadi bayang-bayang. Meskipun mendaftar di
Universitas yang sama, namun kali ini saya memutuskan untuk berganti jurusan.
Saya mendaftar di UNNES jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI)
melalui jalur SBM-PTN. Percobaan saya yang kedua ini hasilnya masih nihil. Saya
tidak diterima di PTN tersebut. Setelah itu saya memutuskan untuk kuliah di
Perguruan Tinggi Swasta (PTS).
Setelah
beberapa kegagalan saya lalui, pada tahun 2015 saya memutuskan untuk mendaftar
di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) mengambil jurusan yang sama yakni
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Awal masuk UPGRIS saya berfikir
bahwa PTS pasti kualitas pendidikannya rendah. Setelah beberapa kegiatan saya
lalui seperti POEMA, PIES-Q, dan PEKKA saya mulai berfikir ada yang istimewa
dengan kampus UPGRIS ini. Ternyata memang benar, meskipun swasta namun kampus
ini punya kualitas.
Awal
masuk kampus UPGRIS saya banyak mengikuti kegiatan kemahasiswaan, diantaranya
Racana Subiadinata, Rebana Nurul Astidz, dan Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII). Semester 1 dan 2 saya sangat bersemangat ikut berbagai
kegiatan diatas. Namun, pada semester-semester selanjutnya semangat saya mulai
padam. Meskipun begitu, banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan.
Pertama kali di Semarang, saya tinggal di Musala Nurul
Huda dan jadi takmir di sana. Setelah semester 3 saya memutuskan untuk pindah
kos ke Jalan Jolotundo XII, Medoho Raya, Semarang Timur hingga sekarang. Saat
ini saya sedang menempuh semester 7 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia (PBSI) di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).
(Miftahudin, Pujangga Asli Kendal)
Komentar
Posting Komentar