Il' Grande Partita
Oleh Miftahudin
Bologna, sto arrivando!. Yap, kalimat tersebut
terus bergaung di telingaku. Gemuruh tepuk tangan penonton terus bergema. Sorak-sorai lima puluh ribu penonton yang memadati Estadio Renato Dall’Ara bersautan
sembari mengagungkan namaku. “Matteo,
Matteo, Matteo ale ale”.
Aku berlari dengan kecepatan penuh. Bola diumpan oleh
Leonardo dari sisi kiri lapangan, bola melambung di udara. Aku berlari dan
melompat, timing yang pas dan gol. “Gol, gol, gol, gollllll per Bologna da Matteo”
ucap komentator pertandingan diiringi sorak sorai gemuruh penonton yang
memadati Estadio Renato Dall’Ara.
Sebuah gol bicycle-kick tercipta.
Euforia kemenangan terus menggema. Tiba-tiba terdengar
suara “Kring, kring, kring” alarm berbunyi bersautan dengan suara ibuku
“Matteo, bangun. Jangan tidur terus. Di depan sudah ada Leonardo dan
Alessandro”. Seketika aku bangun dari tidurku. Sejenak aku tersenyum ternyata
aku hanya bermimpi menjadi pemain bola profesional.
Aku bergegas mandi kemudian siap-siap untuk berangkat
karena Leonardo dan Alessandro sudah menungguku di depan rumah. Aku dan kedua
sahabatku bersekolah sepak bola di SSB San
Giovanni Pietro. Kami berlatih sepak bola di sini, kami tergabung dalam
kelompok usia U-19.
Aku tinggal di desa kecil bernama Casalecchio di distrik Castel
San Pietro Terme, Bologna. Di desa ini, sepak bola tidak sekadar olahraga
tetapi sudah menjadi gaya hidup masyarakat San
Pietro. Dari desa ini pula banyak lahir bintang sepak bola timnas Italia.
“Teo, kamu perlu berlatih lebih keras. Ukuran
tubuhmu terlalu kecil untuk ukuran pesepak bola. Usahamu harus lebih, kamu
pasti bisa!” seru pelatih SSB-ku sembari memberiku semangat.
Aku
memang memiliki tubuh yang mungil dibanding teman-teman seusiaku. Aku mengidap
kelainan hormon yang mengakibatkan pertumbuhan fisikku melambat. Namun hal
tersebut tidak menyurutkan semangatku untuk menggapai mimpiku.
Bergabung bersama Bologna FC adalah impian semua
masyarakat San Pietro. Tak terkecuali
aku, Leonardo, dan Alessandro yang berlatih dengan giat untuk bisa masuk tim Bologna
FC U-19. Selain merupakan Klub lokal, Bologna FC juga merupakan tim profesional
sepak bola yang saat ini tengah berlaga di kasta tertinggi sepak bola Italia, Serie-A.
SSB San Giovanni
Pietro merupakan salah satu SSB yang mencetak pemain berbakat untuk masuk
ke skuad Bologna FC. Tepat hari ini adalah pengumuman siapa saja yang akan
menimba ilmu dan masuk ke skuad Bologna FC U-19. Sehari sebelumnya kami telah
melakukan seleksi yang begitu ketat.
“Kira-kira nanti
kita lolos gak ya?” tanyaku kepada kedua temanku.
“Optimis saja,
kita pasti lolos” sahut Alessandro.
Hari ini akan ada lima pemain yang akan lolos seleksi. Jantungku berdetak
cukup kencang ketika pelatih akan mengumumkan hasilnya. “Sesuai yang kemarin
saya katakan, hari ini akan ada lima pemain yang lolos dan menjadi bagian dari
Bologna FC U-19” terang pelatih kepada semua pemain SSB.
“Pemain yang pertama yaitu Antonio. Kemudian Francesco” ucap
pelatih.
“duh lolos gak
ya?” tanyaku pada Leo dan Sandro.
Mereka hanya
tersenyum menatapku yang dari tadi tidak bisa tenang. Pelatih melanjutkan
bicaranya. “Berikutnya Leonardo, Matteo, dan yang terakhir Federico.”
“Yeahhh, lolos. Kita lolos Leo” seruku gembira sembari
menepuk-nepuk pundak Leonardo yang juga lolos. Kami sangat bahagia hari ini
karena impian kami yang mulai tercapai. Di sisi lain kami juga sedih karena
teman kami Alessandro tidak lolos.
“Sudah jangan sedih, aku bisa coba lagi tahun depan,
selamat ya” ucap Alessandro kepadaku.
“Tetap semangat,
Sandro” sahutku sembari menenagkan Alessandro.
Kegembiraan lolos seleksi tidak semata-mata membuatku dan
Leonardo berpuas diri atau pun leha-leha. Dalam dua hari kedepan kami akan bertanding
melawan tim tetangga FC Parma U-19 dalam Derby
Dell’Emilia. Ini merupakan laga lanjutan dalam Serie-A U-19 tahun ini dan sangat menentukan bagi kami.
Laga Derby
Dell’Emilia melawan FC Parma merupakan laga yang sangat penting dan sarat
gengsi antar tim sekota. Terlebih lagi buat kami yang sedang berusaha menghindari
jurang degradasi. Untuk itu kami berlatih sangat keras. Kami berlatih hingga
dua kali sehari. Selain itu, kebutuhan gizi kami juga sangat diperhatikan.
Akhirnya pertandingan yang ditunggu-tunggu telah tiba.
Hari ini adalah hari dimana Derby
Dell’Emilia akan berlangsung. Pertandingan digelar di Kota Bologna. Lima
puluh ribu penonton telah memadati Estadio
Renato Dall’Ara. 30 menit lagi laga akan dimulai. “Teo, nanti kamu masuk di
pertengahan babak kedua. Kamu saya jadikan kartu truff jika nanti tim mengalami
kebuntuan. Persiapkan dirimu” terang pelatih kepadaku.
Aku memulai laga dari bangku cadangan, sementara
sahabatku Leonardo jadi starter sejak awal pertandingan. Dia
memang pantas untuk masuk starting
line-up karena dia punya kualitas. Leonardo berposisi sebagai right-bek atau bek kanan, sementara aku
berposisi sebagai striker atau
penyerang.
“Pritttttt.”
Sang Pengadil meniup peluit tanda dimulainya pertandingan.
Pertandingan
berlangsung sangat menarik sejak peluit dibunyikan. Jual-beli serangan terjadi sejak
awal laga. Sesekali terjadi benturan yang keras antar pemain. Laga derby sim
sekota ini berlangsung panas dan menarik.
Peluang
pertama didapatkan oleh tim tamu. Sebuah tendangan keras jarak jauh mampu di
tepis dengan terbang oleh penjaga gawang Bologna FC, Andrea Perlucci.
“Tendangan yang sangat bagus dan pernyelamatan yang luar biasa dari penjaga
gawang. What a save from Perlucci!” ucap
komentator pertandingan.
Tim
kami bukannya tanpa peluang. Di menit ke-30, akselerasi Leonardo dari sisi
kanan lapangan yang diakhiri dengan umpan silang hampir berbuah gol. Sayang heading dari penyerang Simone Caldara masih menyamping tipis dari
gawang FC Parma yang dikawal Roberto Sorrentino.
“Sayang sekali tandukan dari Simone Caldara masih
menyamping 30 sentimeter dari gawang. Skor masih imbang 0-0” terang komentator
pertandingan dengan penuh kegairahan.
Lagi-lagi Simone Caldara mendapatkan peluang, namun
sayang belum bisa dikonversikan menjadi gol. Kali ini sontekannya masih mampu
diamankan Sorrentino. Caldara banyak
menyia-nyiakan peluang.
“Sebuah tekel keras di dalam kotak penalti Parma, yap
kartu kuning dan penalti untuk Bologna” seru komentator pertandingan.
Tim kami mendapatkan hadiah penalti setelah rekan kami
ditekel keras oleh bek lawan. Tendangan duabelas pas akan dieksekusi oleh
Caldara.
“Kita saksikan bersama apakah menjadi gol tendangan
duabelas pas oleh Caldara.” Terang komentator hingga suasana hening menegangkan
seisi Estadio Renato Dall’Ara.
“Sayang sekali sepakan Caldara masih mampu diamankan
dengan baik oleh Sorrentino” ucap komentator pertandingan.
Seketika penonton
besorak kecewa “huuuuhhh... Caldara out”.
Kegagalan Caldara mengeksekusi penalti membuat para pemain kami frustrasi.
Petaka terjadi di menit akhir menjelang interval pertama.
Tepatnya menit ke-45 sebuah serangan balik cepat FC Parma berbuah gol.
“Sebuah serangan balik cepat dari sisi kiri lapangan oleh
FC Parma. Long-ball
passing ke penyerang” terang komentator
pertandingan.
“Fokus,
fokus, lini pertahanan fokus, ayo gelandang ikut turun membantu.” Ucap pelatih dengan nada keras sembari memberi arahan
dari pinggir lapangan.
“Sebuah plessing-ball dari penyerang FC Parma
dan gol. Jala gawang Bologna bergetar lewat aksi striker Parma Andrea
Berlusconi. 1-0 tuan rumah tertinggal” ucap komentator pertandingan.
Kami tertinggal satu gol. Kami berusaha untuk menyamakan
kedudukan, namun hingga interval pertama selesai skor masih 1-0 untuk
keunggulan tim tamu.
Di dalam ruang ganti pemain, Sang Allenatore memberi arahan, semangat, dan taktik yang akan dilakukan
di babak kedua nanti.
“Ayo anak muda,
semangat. Asa itu masih ada, bekerja keraslah. Nanti jangan terlalu lama
menguasai bola. Langsung serang dari sisi kanan maupun kiri” terangnya.
Sang Allenatore
juga tak lupa memberiku arahan secara pribadi.
“Matteo De Sciglio
nama lengkapmu. Kamu bekerja keras untuk pertandingan ini kan. Nanti kamu masuk
sekitaran menit ke-65. Tunjukkan hasil latihanmu selama ini. Ini waktunya
pembuktian dirimu” jelas pelatih 52 tahun itu. Aku hanya bisa tersenyum optimis
untuk membuktikan bakatku di tengah kekurangan fisikku.
Lima
belas menit berlalu, kick-off babak
kedua dimulai. “Prittttt.” Pengadil meniup peluit tanda dimulainya kick-off. Pertandingan berjalan dalam
tempo cepat. Tim kami sebagai tuan rumah tentu berupaya untuk menyamakan
kedudukan. Sementara tim tamu yang sudah unggul fokus untuk menggalang lini
pertahanan. Serangan tim kami mampu dipatahkan dan diredam oleh tim tamu.
Hingga menit ke-64 belum terjadi gol.
“Matteo bersiap-siaplah. Ini
waktunya dirimu” terang pelatih kepadaku.
“Pergantian pemain oleh Bologna FC. Pemain
nomor punggung 11 Matteo masuk menggatikan pemain nomor 9 Simone Caldara” ucap
komentator. Seketika seisi stadion riuh meremehkanku.
“huuuuu, apa ini pelatih. Pemain kecil seperti
ini bias apa” ucap salah satu penonton dari tribun timur.
Aku tak menghiraukan
cemoohan itu, hal itu justru menjadi pelecut semangatku untuk membuktikan
kualitasku.
”Sentuhan pertama anak muda yang baru masuk. Control-ball yang luar biasa. Oh tidak,
dia meliak-liuk di lini pertahanan tim tamu. Sebuah tendangan dan hampir saja
berbuah gol. Sepakan Matteo masih mampu diamankan Sorrentino. Corner-kick buat Bologna” tutur
komentator pertandingan.
“Sebuah sepak pojok mampu
ditepis sorrentino, bola liar ada rebound
di sana. Matteo datang, dan gol. Gol penyama kedudukan dari Bologna FC oleh
Matteo si pemain bertubuh kecil. Tendangan kerasnya
menghujam gawang Sorrentino. 1-1 game on!”
teriak komentator pertandingan.
Pertandingan kembali dilanjutkan.
Sampai dengan menit ke-90 belum terjadi gol kembali mekipun kedua tim saling
jual-beli serangan.
“Tambahan waktu 5 menit. Memang pertandingan
sempat berhenti beberapa saat tadi karena banyak tackle keras terjadi. Siapakah yang akan memenangkan Derby Dell’Emilia ini” ucap komentator.
Tim kami terus membangun serangan.
“Kita saksikan, sebuah serangan dari sisi kiri. Leonardo
kepada Matteo, bola dikembalikan lagi ke Leonardo yang melakukan akselerasi. Matteo
melakukan sprint, upan lambung dari
Leonardo dan gol. Sebuah heading yang luar biasa dari Matteo, Unbelieveble!. What a perform from Matteo. What a come back!. 2-1 tuan rumah
berbalik unggul.” Jelas komentator penuh emosional.
“Pritttt, prittt, prittt.” Pengadil
meniup peluit tanda selesainya pertandingan. Seketika seisi Estadio Renato Dall’Ara. Suara komentator dan penonton bersutan menyebut namaku.
“Matteooo.. De
Sciglio, Matteooo.. De Sciglio” riuh penonton.
“Pertandingan yang menarik
dan penampilan yang luar biasa dari pemain mungil, pemain pengganti yang mampu
mencetak brace untuk kemenangan
Bologna FC. Matteo De Sciglio, pemain muda rekrutan baru dari San Pietro ini sangat luar biasa Bung. Predikat
man of the match layak disematkan
kepadanya.” Ucap komentator usai laga.
Pertandingan yang luar biasa
didebutku, langsung cetak brace dan
memberi kemenangan timku dalam pertandingan derbi sekota. Untuk sementara timku
keluar dari zona degradasi.
“pertandingan yang luar biasa. Selamat anak
muda. Jangan cepat berpuas diri, SS Napoli sudah menanti pekan depan” ucap
pelatih kepadaku di ruang ganti.
Yap, aku tidak boleh berpuas diri terlalu dini. Pekan
depan tim kami akan melawan Il’
Partenopei julukan SS Napoli. Aku siap untuk melawat ke Kota Naples!.
(Miftahudin,
Pujangga Kendal)
Komentar
Posting Komentar